Change dan Sustainability

Managing organizational changes is not an adhoc-reacive,  impulsive response
Managing organizational changes is not an adhoc-reacive, impulsive response

Revolusi digital dan internet membuat dunia tak bersekat.  Aspirasi, Kebutuhan, Nilai dan gaya hidup konsumen dengan cepat berpendar dari satu episentrum ke ujung dunia lainnya. Dan laju kecepatan perubahan itu makin lama main cepat.   Konsumen seakan terkoneksi secara maya  menjadi suatu jiwa dengan tubuh yang berbeda-beda. 

Pada sisi lain, produser mapan asyik dengan kemapanannya.   Tanpa sadar, fokus perhatiannya terjerat oleh kompetensi dan kebiasan yang telah mereka miliki selama ini: Sesuatu yang pada dekade sebelumnya menghantar perseroan menjadi besar.  Belum adanya incentive atau daya paksa  yang membuat individu dan perseroan mereview apakah produk dan jasa yang mereka tawarkan masih pas dan fit dengan selera pasar pada masa mendatang. Strategi yang mereka anut juga masih tetap sama. Mereka bak terlena dengan keberhasilannya.  

 

Dan diisitulah akar masalahnya.   Sebagai contoh   Supply Pusat perbelanjaan dan malls di kota besar berkembang amat pesat, sedangan pada sisi yang lain konsumen mulai gandrung pada. E commerse dan online shopping.   Hanya dalam hitungan waktu, trend belanja online dan E commerce akan mendominasi transaksi dan membuat properti shopping market kehilangan daya pesonanya.  Itulah pentinganya change management:  Perseroan mendesign secara antispatif perubahan ada yang harus mereka adopsi.   Apakah itu:  system, struktur, strategi, leadership style, teknologi, policy, fokus haluan, bisnis model, kompetensi dan lain sebagainya, sebelum ombak perubahan itu datang dan membuat kompetensi  yang saat ini relevant menjadi usang.    

 

Tantangan bagi perseroan yang ingin melihat keberlangsungan eksistensinya, adalah membantu stakehodlernya, terutama management dan staff internal perseron untuk bergerak menjawab tantangan tersebut menjadi peluang.Hal ini dapat dicapai dengan mendesign Change Management.Tanpa hal itu, insan perseroan bisa jatuh dalam ke pola "kecewa, putus asa dan kalut" ketika dalam keadaan terdesak perseroan mendapatkan dirinya tidak lagi kompetitif, atau produknya dianggap tidak relevan dengan zaman.

 

Tentu saja ada banyak tantangan dalam  implementasi perubahan. Tidak mudah mengajak personil untuk merespon perubahan, apakah itu dalam arti perubahan : system, proses, aplikasi teknologi, policy, organizational behavior, culture, leadership style, atau the way of doing business.  Bukan karena semata- mata orang opositiif  menantang -resist to change- tetapi secara psikologi, perilaku individu memang terikat terhadap sebuah pola. Kalau seseorang atau organisasi sudah terpola melihat dan melakukan sesuatu, maka secara by default, hal itulah yang akan di lakukan secara alamiah. Itulah jurus yang "efisien" yang sudah terbangun- built in-  dalam diri setiap orang.  Disitulah tantangan Change -leadership untuk menyakinkan semua stake holder untuk mengadakan "migrasi" ke pola baru.

 

Tantangan Change-Leadership.

Tantangan yang makin hari makin terasa penting adalah perubahan leadership styles, yang bersifat transformational. Sebuah gaya kepemimpinnan yang relevant dengan Values dan cara pandang stakeholders yang berkembang sesuai zaman. Leadership style yang mengusung keterbukaan, keterlibatan, kebersamaan dan menawarkan tantangan dan kepuasan kerja akan sanggup mengeluarkan potensi dan kekuatan terbesar dari dalam diri setiap personelnya. sebaliknya, Leadership style yang tidak adaptif terhadap tuntutan zaman, akan berakibat fatal terhadap competitiveness perseroan.   Pekerja dan eksekutif yang potensial dan kreatif, yang tidak merasa mendapatkan outlet ekspresi ketrampilannya, akan mencari tempat lain yang punya daya akomodasi untuk talent dan kompetensi mereka.