Core Issue of Change

Changes initiative start from a burning dream to challenge current status quo
Changes initiative start from a burning dream to challenge current status quo

Bagaimana  Fenomena dan   response typical organisasi dalam menyikapi dinamika perubahan pasar yang begitu cepat? Ada dua status reaksi umum organisasi -perseroan terhadap dinamika perubahan.

 

1. Mereka tahu ada perubahan market,  tapi  tidak paham atau peduli  apa implikasi nya terhadap kelangsungan bisnis di kemudian hari akibat  dari dinamika tersebut. 

Konsekwensinya, Business As Usual.As it is dan It is was.    Pendekatan ini  bisa makan ongkos yang besar. Menjalankan bisnis dengan pakem dan langgam kemarin dan hari ini, untuk menjawab kebutuhan hari esok.      Dan karena dinamika pasar yang cepat, perseroan akan ‘kelabakan” suatu saat ketika produk atau jasa yang mereka hasilkan mismatch dan tidak relevant terhadap zaman.   Response utama perseroan adalah reaktif,  dengan pendekatan trial –error terhadap pertumbuhan.Dan hanya sedikit perseroan yang berhasil bertahan terus -menerus dengan pendekatan seperti ini.

 

2. Mereka yang awared, paham akan  adaanya dinamika pasar yang cepat, dan juga mengerti implikasinya terhadap sustainabilitas perseroan.    Masalah umum yang lazim di hadapi kelompok kedua ini adalah,  “ Tahu dan ingin” melakukan perubahan, tetapi “tidak bisa”. Masalahnya bukan di pemahaman koqnitif konsep tetapi dalam implementasi perubahan itu sendiri. 

 

Meskipun kelompok ini paham dan bisa mengidentifikasi hal –hal berikut ini dalam Change Management:

 What to change: Apa yang mesti dirubah,  mungkin di bidang Aplikasi teknologi, Business Practices, Product- Service Deliviery,  Business System, Procedure- governance, leadership style, Busines Culture, atau apapun juga

 • When to Change.   Kapan time frame dan limit antisipasi perubahan mesti dilaksanakan

 • Where to Change: Apakah mekanisme perubahan bersifat partial  pada sektor tertentu, dan incremental , atau secara total transformational pada seluruh unit bisnis 

 • Who to Change:   Siapa saja yang mesti di ajak dan diyakinkan untuk ikut dalam gerbong perubahan dan bagaimana menangani mereka yang oposotif, skeptis, apatis terhadap initiatif perubahan tersebut.

 • Why to Change:   Mengapa perubahan tersebut menjadi penting dan apa akibat yang bisa terjadi kalau organisasi tidak melakukannya dengan tuntas. 

 

Akan  tetapi  kesulitan membawanya dalam implementasi praktek lapangan.  Ada issue konversi dan translation disini dalam  aspek implementasi How to Changes

Bagaimana Approach- implementasi terdahap issue Change Response diatas

Formulasi issue dan pendekatan :

 

1. Kelompok " Business As Usual"

Untuk Kelompok pertama yang menjalankan Business As Usual,  maka pendekatan yang bisa di gunakan adalah “ eye opener” membuka mata terhadap betapa mahal konsekwensi, dan ongkos yang terjadi ketika berbagai perseroan besar tiba-tiba menemukan produk-jasa mereka menjadi tidak relevan terhadap kebutuhan pasar dan akhirnya “hilang dari radar”. Sekedar menyebut contoh, Batavia Air, Adam Air, Buraq ,raja garment, Great River, kampiun tekstil Temaco.  Belum lagi begitu banyak yang kini terseok-seok: Nokia, Errikson, dan begitu banyak lainnya perseroan ukuran kecil dan menengah-SMEs.

Kemudian mulai mengajak organisasi merancang antisipasi Change Management sebelum dipaksa untuk melakukan perubahan mendadak dan radikal oleh keadaan.   Kalau menunggu sampai perseroan dipaksa berubah untuk transformasi pada saat terjepit,  peluang recovery menjadi amat kecil, dan menimbulkan terlalu banyak cidera dan ongkos.Suatu pilihan yang amat beresiko. 

 

2. Kelompok  perseroan  “ Transformasi yang tertahan” 

Kelompok ini tidak punya masalah awareness, tidak ada masalah dalam pemahaman koqnitif pentingnya manajemen perubahan dan dinamika yang dihadapinya.Tetapi masalah utamanya di kesulitan implementasi.A translational problem.Berbagai initiatif dan aplikasi, terganjal ataupun kembali kepola mula –mula.    Terhadap kelompok ini maka pendekatannya adalah organizational way of thinking  renewal dan behavior modification.

Pikiran individual ataupun organisasi pada dasarnya berjalan atas hukum conditioning, meskipun secara koqnitif,  secara rasio, manusia bisa mengklaim hukum rational kqnitif sebagai pengendali kebebasan pikiran dan tindakan.

Perilaku Organisasi yang sudah terbiasa menjalankan metode dan strategi A,  secara default akan tetap memilih jalur A.  Tidak banyak pilihan. Jalur yang ada, berlaku seperti template standard, pola yang baku dan default. Seperti trak  rel kereta api yang telah terpasang. Begitu mendapat reaksi, ia otomatis (tanpa sadar) akan bergerak melalui track yang sudah dilalui sebelumnnya. inilah jalur yang sudah terpola, efisien dalam arti ‘konservasi energi’. Namun jalur yang efisien ini belum tentu efektif untuk menjawab dinamika masa depan.  Disinilah gap terjadi , dan akhirnya terjadi mismatch antara  kemampuan produksi dan selera pasar. 

 

Recomending a  Way out

Untuk mengatasi hal tersebut  agar perseroan bisa secara effektif mensukseskan program What to Change yang telah dicanangkan, maka organisasi perlu memfasilitasi dan mengintroduksi  opsi “new template’  stakeholdernya, menawarkan paradigm shifting, behavior modification atau terjadi breakthrough  yang memungkinkan stakeholder mengalami sendiri apa artinya Thinking dan Acting  out of box, bukan hanya dalam pemahaman koqnitif semata.    

Silakan menghubungi Contact Us untuk mendapatkan informasi perihal consulting service bidang Change Management ini.

Sedangkan untuk melihat contoh program intervensi pelatihan yang bisa membantu Mindset renewal- Paradigm shifting dalam mensukseskan implementasi Change management, Silakan klik bagaimana program intervensi pelatihan  di seksi    corporate training defora

 Andapun dapat  melihat contoh  program content pelatihan secara spesifik:

Mindset Renewal-Paradigm Shifting, atau 

Program praktis  aplikasi  Designing Right mindset for Sales

Juga tersedia contoh :

standard modules change management 

Standard outline change management 

 

Program intervensi pelatihan tersebut disediakan untuk mensukseskan dan mengawal implementasi bidang  change management consulting.  Itulah salah satu Our Service Distinctive  keunikan concept Defora Consulting. Selain membantu bidang consulting dalam perumusan masalah dan rekomendasi solusi, juga menawarkan solusi praktis terhadap rekomendasi tersebut dalam program intervensi.