Core Issue of Business Strategy

We recommend you some strategic course of actions that will produce fundamental result
We recommend you some strategic course of actions that will produce fundamental result

Bagaimana  Fenomena dan   typical Business Strategy  organisasi dalam menyikapi dinamika perubahan pasar yang begitu cepat?

 

Fenomena response perseroan dalam merumuskan Business Strategy dan atau Business Planning secara keseluruhan dapat dibagi dalam profiles berikut ini.

Ada 3 pola yang  sering dihadapi organisasi dalam perumusan Strategi Bisnis, dengan asumsi dasar mereka tahu dimana posisi mereka sekarang dan punya gambaran  tentang destinasi yang ingin dicapai dimasa depan.

 

 

1. Pola Kelompok “As it Goes” 

Mereka yang menetapkan Target pencapaian, tetapi tidak merumuskan secara jelas -totalitas business planning dan strategi untuk mencapainya.Umumnya mereduksi makna Bisnis Planning- Strategi dengan nominal Target.Dengan demikian perseroan tidak menetapkan alat, bahan dan metode alias wahana secara sistematik untuk mencapai Corporate Objective.  Perseroan tidak memiliki formulasi business strategi yang jitu dan baku  untuk menjawab mimpi organisasi.

Response organisasi  umumnya bersifat pragmatis, reaktif. Sebagian atas dasar trial dan error, dan tidak ter dokumentasi dengan baik. Akibatnya esensi strategi tidak dipahami atau tidak bisa  dikomnunikasikan dengan jelas ke seluruh department.   Kekuatan organisasi tidak bergerak sinergis atau kohesif.Pertumbuhan perseroan tidak dapat diprediksi dengan jelas dan kepastian pencapaianya juga tidak terukur.

 

2. Pola Kelompok  Strategi dengan Designer Template Kemarin

Kelompok ini menetapkan corporate objectives  hari esok dengan jelas dan menyusun Wahana untuk mencapainya.  Yang menjadi ciri utama kelompok ini adalah meskipun corporate objectivenya meningkat sesuai pertumbuhan pasar, Namun pola strategi yang dipakai hampir selalu sama dari tahun ketahun.    Akibatnya corporate objective sering tidak tercapai, atau terjadi stagnansi performance perseroan.Pencapaian perseroan menyamai garis datar landau atau sekedar incremental linear.

Perseroan terjebak pada pola lama strategi kemarin dan hari ini, untuk  menjawab persoalan hari esok. Menggunakan jurus yang hampir sama dengan tahun lalu.  Tidak ada strategi yang inovatif-wow yang mecengangkan.Perseroan Takut dan Kuatir mengadopsi strategi bisnis baru yang belum tentu berhasil, sedangkan strategi lama masih memberikan profit.Akhirnya, ketika pasar berubah,  strategi tersebut menjadi usang.  Business Strategy nya tidak fit untuk mengangkat perseroan ke corporate objective yang lebih tinggi. Hanya sekedar flat atau incremental kecil.

Secara singkat, perseroan menggunakan tempat strategi kemarin, untuk menjawab Market demand, preference dan customer lifestyles masa depan.   Akibatnya produk atau jasa yang di hasilkan menjadi tidak relevant, tidak appealing, tidak menjawab kebutuhan zaman dan laju penjualanpun  menurun.

 

3. Pola Kelompok Strategi Vs Kesenjangan Praktek

Kelompok perseroan yang sanggup mendesign business strategi yang otentik, inovatif- kreatif, namum terhadang kendala di tingkat eksekusi.Strategi baru menjadi ‘mental kembali’.  (rebounce). Ada issue Change Management disini.  

Stakeholder paham akan strategi baru dan tujuan besar yang ingin dicapainya, jadi tidak ada masalah dalam arti pemahaman koqnitif, namun terhalang pada fase implementasi.Pola dan Kebiasan lama yang bersifat akut menahan momentum organisasi ketika hendak bergerak maju dengan bisnis strategi yang baru.   Ada mismatch organizational behavior dan way of thinking secara kolektif terhadap kesuksesan implementasi Strategi baru..

 

Bagaimana Approach- Implementasi terhadap issue Business Strategy 

 

Formulasi issue dan pendekatan hal diatas dapat kita ringkas sebagai berikut:

Kelompok 1.Strategy “As it Goes”

Pendekatan yang bisa dipakai untuk kelompok ini, adalah institusionalisasi Business Strategy, sehingga terformulasi dengan jelas.   Sebagian besar perseroan nasional yang berkembang dari perseroan keluarga, dengan jiwa entreprenership yang kuat dari sang founder sering menghadapi fenomena ini.   Banyak business strategi yang hanya tersimpan dalam benak pemikiran founder, tetapi tidak tertartikulasi dengan jelas kedalam rentang organisasi.Atau Business Strategi dianggap sebagai suatu hal yang pragmatis, trial dan error.Pakem ini bisa saja efektif ketika organisasi masih bersifat kecil. Namun ketika struktur membesar, bisa mengakibatkan organisasi kehilangan momentum, ketika sang pelopor absent.   Bisa juga beban pekerjaan menumpuk pada orang tertentu di level puncak pengambilan keputusan, sehingga distribusi beban kerja terasa tidak merata.  Akibatnya kontribusi kolektif dari masing- masing department tidak dapat di maksimalkan penggunaannya.

Way out.  

Organisasi bisa memulai merancang suatu bisnis planning dan strategi yang membuatnya bisa menyatukan kekuatan organisasi untuk mencapai objektif perseroan; menghimpun semua sumberdaya organisasi untuk merebut peluang bisnis besar sebelum didahuli oleh competitor.

 

Kelompok 2.Strategi dengan Designer template kemarin

Pendekatan yang bisa dilakukan untuk kelompok dua adalah dengan memberikan potret perubahan gaya hidup, preferensi dan tuntuan pasar yang berubah cepat akibat konvergensi teknologi dan globalisasi. Dinamika pasar berubah makin lama makin cepat, sehingga product lifecycle menjadi makin pendek, termasuk bisnis strategi. Dengan demikian organisasi akan bisa melihat dengan jelas apa konsekwensi yang harus di tanggung jika perseroan Gagal memformulasikan dan mengadopsi Strategi Baru yang laik  dan fit untuk zamannya di masa datang.

Menggunakan jurus strategi masa lalu, meskipun ia terbukti sukses sebelumnya, tidak menggaransi kesuksesannya pada masa yang akan datang,  ketika strategi yang sama di relaunch.   Untuk setiap strategi ada masanya. Menggunakan strategi lama untuk mengantisipasi dinamika esok akan membuat perseroan melahirkan produk –jasa yang tidak relevant terhadap jaman, tidak appealing apalagi menimbulkan wow effect

Way out.

Organisasi perlu mengembangkan mentalitas keberanian.Memikirkan opsi strategi baru, meninggalkan yang lama.Sebagian besar keterusangan (obsolescent dan anachronistic) produk atau jasa terjadi, karena organisasi merasa ‘sayang’ meninggalkan strategi lamanya yang masih menghasilkan, sedangkan strategi baru belum tentu menjamin.Umumnya organisasi terikat keberhasilan masa lampau.Sebagai contoh, Nokia terikat dengan keberhasilan hardware, dan kemampuan engineering untuk mensophistikasi hardware, sedangkan pasar bergerak menuju Smart phone yang mementingkan aplikasi.Penjualan handphone kala itu masih cukup baik.Sehingga kalau harus meninggalkan opsi tersebut dan terjun dalam strategi baru yang belum pasti, bukanlah hal yang mudah.Sampai akhirnya kompetitor masuk dengan produk dan jasa yang baru merebut pasar.Dan saat ini sering kali perseroan dipaksa oleh keadaan untuk beralih strategi dalam keadaan terdesak dan tertekan.

 

Kelompok 3 Strategi Vs Praktek

Untuk kelompok 3.Pendekatan yang bisa dilakukan adalah menyiapkan kompetensi  sisi teknis dan sisi mental dari stakeholder agar menjadi compatibles dengan strategi baru yang akan diambil.  Point penting dalam mensuksekan implementasi lapangan dari strategi baru adalah perihal     Managing Changes.

 

 

Rekomendasi

Klik link berikut ini untuk mengetahui lebih lanjut tentang

Business Planning, bagi perseroan yang ingin mengetahui bagaimana menggunakan business planning sebagai “ competitive weapon’ untuk merebut pangsa pasar

Objective- benefit . Tujuan dan Kegunaan yang bisa dipetik perseroan dengan memformulasikan  dan mengimplementasikan Business Planning

Proses Bisnis Planning.  Etape tahapan dan unsur –unsur yang harus tercakup dalam sebuah Business pLaning.

Value Addition Konsultan.   Kontribusi dan manfaat yang bisa diperoleh bila menggunakan konsultan dalam merancang proses Business Planning dan formulasi strategi bisnis

Strategic Management.Perihal pentingnya pemikiran strategis untuk memformulasikan perspektif jangka panjang perseoran.

 

Sebuah Business Planning yang efektif, selain memformulasikan suatu business strategy yang jitu, juga harus mencakup resources dan kompetensi apa saja yang di tuntut untuk mensukseskan implementasi  strategi tersebut.  Tanpa itu, Business Strategy akan lebih berperan sebagai file di lemari arsip.

Untuk membantu perseroan membuat Busines Planning dan Strategi yang efektif, untuk itulah Defora Consulting hadir.  Simak juga Our Distinctive Services yang membedakannya dari jasa consulting sejenis. Silakan Contact Us.