Bringing Indonesia to Digital Era.

Salah satu motor revolusi dalam bisnis dan market saat ini adalah knowledge economy. Ya Knowledge economy adalah non-depletable resources.   Berbeda dengan kekuatan Natural Resouces yang bisa habis di tambang.   Knowledge economy yang mengandalkan kekuatan kreativitas dan innovasi pikirian manusia justru punya karakteristik sebaliknya.   Ia suatu harta karun  emas yang tidak  pernah habis di tambang. Bahkan makin di tambang, makin deras mengalir daya produksi nya.
Key driver dari knowledge economy adalah dunia digital. Ia akan segera mendominasi bisnis, perdagangan dan industry. Pasar akan mengalami integrasi, dan konvergensi itu terjadi makin cepat dengan hadirnya dunia digital.  Ia akan menjadi tulang punggung competitiveness baru. Siapa yang menguasai dunia digital, ia yang akan pegang kunci kejayaan organisasi, baik itu perseroan, komunitas, maupun Negara.    Kelak apakah suatu organisasi akan bisa sustain atau collaps akan ditentukan sejauh mana ia menggenggam kapasitas dan kapabilitas kemampuan integrasi digital dalam menciptakan efisiensi.  Penguasan teknologi digital menjadi prasyarat untuk lolos seleksi alam bagi suatu organisasi, dunia bisnis, industri bahkan Institusi Negara.


Bagaimana memenangkannya peperangan baru dunia digital? Ada dua hal pokok. Pertama Kompetensi dan kedua Mentalitas yang compatibles dengan karakteristik dunia digital.

Kompetensi digital- relavansi Mentalitas.
Penguasaan kompetensi Dunia teknologi digital amat mahal. Ia butuh investasi infrastruktur- Devise, Network Application yang amat tinggi. A High cost investment. Selain high cost, ia juga very high risk.  Tidak ada yang bisa menjamin sebuah investasi yang amat mahal bidang digital, bisa menghasilkan panen output yang langggeng. Kadaluarsa sebuah teknoilogi digital amat cepat. Amat mungkin suatu investasi yang baru  dipasang infrastrukturnya, sudah usang dan tidak  lagi relevant.  Maklum saja, breakthrough inovasi teknologi tidak bisa diprediksi dengan tepat.  Suatu breakthrough teknologi baru dengan cepat membuat kompetensi dan infrastruktur sebelumnya menjadi tidak relevant alias rongsokan.    Investasi yang belum balik modal sudah dinyatakan obsolete, dan tidak bisa lagi di dulang.


Jadi memang dibutuhkan suatu mentalitas keberanian untuk mengambil resiko (risk taking attitude) yang tinggi bagi pemain bisnis- industry yang bergerak dalam bidang teknologi.   Mereka yang tidak punya nyali, tidak bisa hidup dalam bidang ini. Karena nature revolusi  teknologi memang amat cepat derapnya.    Pilihan lainnya adalah menunggu dan melihat teknologi bergerak, sampai ia bisa di prediksi. Namun hal seperti itu hanya ilusi. Tidak mungkin ada market certainty dalam teknological development.  Domainnya tidak seperti itu.  Jadi  siapapun dan apapun organisasi yang mau maju harus berani investasi dan ikut terjun didalam gelombang ketidakpastian itu.   Oleh karena itu pembangunan mentalitas yang kompatibel dengan high risk taking menjadi amat relevant dan tidak bisa dipisahkan dari penguasaan dan kejayaan teknologi digital.  Meminjam istilah Telkom diperlukan suatu corporate culture yang : Solid, Speed, Smart. Dengan kata lain, harus cepat, tidak bisa lagi memakai pakem “tunggu-tunggu”, menanti hingga trend teknologi bisa diprediksi.  Itu suatu hal yang muskil. Tapi harus bergerak cepat, Solid dan Cerdas.  Cerdas artinya mata hari jeli, bisa membaca trend lifestyle masyarkat kemudian masuk secara preemptive menyediakan resources dan network untuk melakukan antisipasi strategis.

Melihat pertaruhan sustainabilitas organisasi, dunia bisnis bahkan Negara yang ditentukan oleh dunia digital,  saya merasa amat senang dan bangga membaca misi yang di emban Telkom. Mereka terpanggil untuk  Bring Indonesia to the Digital Society. Suatu ajakan yang tidak saja menantang kemampuan teknis merebut kompetensi digital, tetapi juga pertarungan mental: untuk tindak menjadi penonton, berdiri aman di pinggir gelanggang,  tapi ikut terjun dalam risk taking. Kegembiraan saya makin menjadi-jadi ketika melihat statement Telkomsel: Building the Foundation toward the Digital Era. Kedua peran yang di mainkan oleh induk dan Anak perseroan ini menjadi tali temali yang kuat dalam ikut menyiapkan sustainability dunia business, industry bahkan Negara.  Suatu peran yang mulia, yang dibawakan perseroan ini dalam sunyi tanpa ribut –ribut unjuk  ketenaran.   Mereka tau apa yang mereka kawal: suatu peran yang sangat strategis.   Saya mendapat previledge berdiskusi dan sharing Leadership session dengan kaum profesi  Telkomsel yang disebut dengan Great Peoples Development Program.  Mereka adalah suatu kelompok professional muda yang disiapkan untuk menyambut masa depan Indonesia di era digital.


 

Would you like to share your thoughts?