Pola penyebab kematian global  bergeser seiring dengan perubahan substantial masalah yang dihadapi masyarakat. Trend penyakit global mengalami pergerseran portfolio.  Dua dekade lalu, peringkat penyakit yang menyebabkan kematian didominasi oleh disfungsi organik- fisiologis, kini begeser ke arah non fisik.  Peta peringkat beban penyakit global kini diduduki oleh hal-hal yang besifat psikologis-neurotis, dan defisiensi emotional intellegences.  Ketidaksanggupan mengelola ketegangan di dalam hidup yang akhirnya menemukan berbagai outlet disruptif yang mengagetkan norma sosial. Diantaranya sumbu emosi yang makin pendek, mudah meledakkan amarah, baik dalam tawuran, mogok kerja anarkis, premanisme maupun intoleransi.  Sementara  ketegangan yang  tersumbat rapat  didalam diri, menemukan kanal yang disebut  wabah depresi.   Berbagai symptom dan manifestasi depresi menjadi pemberitaan, trending topics. Sementara akar masalahnya kelihatan tetap tersimpan laten.

 

Depresi merupakan salah satu indikasi kegagalan mengantisipasi dan mengelola perubahan- Change Management- yang tengah terjadi.   Akhirnya baik individu  maupun organisasi kehilangan competiveness,  kecuali ada kesadaran untuk putar haluan, -Turn around-.   Sebagai ilustrasi,   Nokia merupakan salah satu contoh yang banyak di sorot ketika  Change management menjadi topik diskusi.  Kemerosotan pangsa pasar Nokia disebabkan oleh ketidakjelian untuk melihat perubahan lifestyles public secara dini.    Life style konsumen telah secara drastis bergeser dari aplikasi hardware ke fitur software.   Namun fokus manageme Nokia masih asyik dengan penyempurnaan hardware. Kejadian yang sama juga dialami Errikson sebelumnya.  

 

Kejadian ini ibarat produser mesin ketik masih ngotot mengutak ngatik fitur dan teknologi mesin ketik, sementara arus global perubahan dan permintaan publik sudah bukan lagi di medium hardware mesin ketik.  

 

Kegagalan membaca dan mengantisipasi perubahan, bisa mengakibatkan orang maupun organisasi kehilangan daya kompetensinya.  Dengan sangat cepat keagungan kompetensi yang di miliki menjadi usang.  Produser tidak punya sesuatu untuk pas untuk ditawarkan kepada pasar.  Akibatnya competitivensss index nya akan melorot alias koreksi pasar.   Pola yang sama juga terjadi pada level individu. 

 

Melihat human competitiveness index manusia Indonesia yang masih jauh dibelakang,  urutan  104 dari lintasan persaingan global, maka  tanpa pengelolaan Change Management yang prudent dan antisipatif, kita akan melihat konsekwensi gelombang depresi yang makin besar.   Kegagalan Change Management juga bisa menjadi  ancaman terhadap pertumbuhan makro ekonomi.

 

Siapapun yang tidak melihat perubahan gaya hidup  yang amat cepat dalam masyarakat, akan melihat kemampuan produksinya tidak mendapat sambutan industry pasar dan publik.  Rentetan keusangan dan konsekwensi “gagal zaman”  adalah himpitan ekonomi. Tekanan ekonomi sering  menjadi kontributor terbesar pintu wabah depresi.  

 

Pasar yang amat cepat berubah, menuntut siapapun untuk melakukan antisipasi dan adaptasi. Dan itulah tugas utama leadership, baik dalam level privat maupun publik. Sehingga para stakeholder yang di pimpinnya bisa memiliki arahan  dan tidak merangkak dalam terowongan gelap.  Arah yang jelas  memampukan stake holder melakukan  adaptasi  Capacity Building, mempelajari hal- hal baru, yang relevan dengan tuntutan kehidupan.  Ketidak sanggupan leadership memberikan arahan akan membuat gerbong kereta kehilangan arah.    Leadership yang reaktif semata memperparah anomali.   Mereka yang  bingung, gelap dan murung itu  akibat absen nya peran sentral leadership itu akhirnya akan bertanya-tanya dalam keputus asaan:  Kemana Pemimpin Kita.

Would you like to share your thoughts?