Dalam 2 tahun mendatang, ceteris paribus, dengan asumsi  anomali tidak hadir,  dan growth rate seperti sekarang,  ekonomi indonesia akan tembus angka 1 trilliun dolar pertahun. Ini berarti akan muncul satu generasi  GDP 4000+ per kapita.  Dan Kue molek ekonomi RI tidak lagi di 20 besar tapi masuk 15 besar!! Wow.

 

Suatu generasi smart buying akan muncul. Pola konsumsi yang melihat esensi content dan benefits akan menjadi titah baru consumer buying behaviours.  Meminjam istilah jeng Sahrini, product contentnya harus “sesuatu banget” barulah ia bisa dilirik para smart buyers yang setiap saat kebanjiran penawaran itu. 

 

Jargon-jargon motivasional semata; Dan janji produk atau jasa bak direct tv selling itu akan rontok daya hipnotisnya di depan gang  smart buyers. Mereka cerdas, melek, punya akses informasi untuk validasi terhadap klaim sepihak produser.   Product dan jasa tanpa   esensi akan kehilangan gigi;  maaf, pepesan kosong seperti itu   akan dianggap melecehkan intelektualitas pembeli kelas 4000 + ini.     Produk dan Services akan diseleksi pasar melalui saringan ketat: Clarity dan Distinctivesness.    Produk dan jasa abal-abal yang sekedar mengandalkan bungkus dan endorsement iklan non otentik akan mendapat serangan balik.    

 

Pages Break Disini

Apapun strategi yang hendak di anut oleh produser, apakah itu Focused differentiation, atau Focused cost leadership  ala Porter atau Tehcnological competitevenesss, itu hanyalah sebuah kereta untuk menterjemahkan sebuah adegium Business clarity dan distinctiveness.     Tanpa  kaedah itu, corporate action akan lebih banyak terdistraksi oleh tawaran fenomena-fenomena ad hoc.

 

Tak dapat dipungkiri, gemerlap dunia bisnis yang amat dinamik saat ini memunculkan berbagai peluang bertubi-tubi.  Akan ada banyak execitive dan businsmen yang tergiur untuk mencicipinya berbagai kemungkinan sensasi pasar, termasuk diversifikasi ke non core bisnis. Namun explorasi- explorasi bisnis diluar core competence selain akan meningkatkan learning cost trial dan error juga berpotensi  menumpulkan ketajaman. 

 

Didalam khazanah kultur  “Ingin melihat hasil yang serba instant ini”, kesabaran kita untuk membiarkan dan melihat sebatang pohon bisnis  tumbuh dan berbuah  alamiah  menjadi semakin tertantang.    Tanpa pehamaman dan conviction terhadap Business clarity yang dianutnya, produser akan tergiur,  perhatiannya akan terdistraksi, sehingga kehilangan focus ketika berhadapan dengan tuntutan  C 4000 .  

 

Penelitian classic behaviorisme dengan permen lembut balita - marsmallow- menunjukkan:  anak- anak yang sanggup menolak dorongan impuls   seketika, (dengan tidak memakan marsmallow saat tidak diawasi, tetapi  hanya akan menikmatinya nanti, dengan harapan mendapat bonus ganda),  merekalah yang kemudian memperlihatkan achievement yangg jauh lebih hebat.    Begitu pula perilaku dan nasib perseroan. Mereka yang setia dan merawat terhadap pohon yang di tanamnya akan memungut panen berlimpah.

 

Pakem ini mirip dengan mengendalikan impuls Fisik dan mental pada saat orang puasa.  Orang memilih  bertahan untuk tidak terdistraksi oleh godaan  wisata kuliner fisik- non fisik  sesaat  hingga beduk buka puasa. Dan mereka yang sanggup bertahanlah yang umumnya akan memancarkan senyum kemenangan ketika panen tiba dalam taluan beduk.

 

Tanpa kesetiaan untuk menyelami essensi distinctiveness dan clarity, suatu business akan kehilangan   pesona untuk menghadapi kaum C4000 yang melek dan gugur dalam seleksi pasar. Kalau itu yang terjadi, kita akan masuk dalam zone penonton daripada penikmat dari sebuah display kue besar dan lezat yang di sodorkan oleh Ibu Pertiwi. 

 

Untuk Menjual Lebih Banyak  terhadap pasar gemuk C4000, kami menyiapkan program SELL@MORE 

 

Hendrik Lim, MBA

 

Would you like to share your thoughts?